Selamat Datang di Rumah Aiyra

Saturday, 9 September 2017

KETERLAMBATAN PERKEMBANGAN BERJALAN PADA ANAK

KETERLAMBATAN PERKEMBANGAN
BERJALAN PADA ANAK

BAB I : PENDAHULUAN

A.        Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan manusia terdapat dua proses kejiwaan yang terjadi yaitu petumbuhan dan perkembangan. Pada umumnya istilah pertumbuhan dan perkembangan digunakan secara bergantian. Padahal kedua proses ini berlangsung secara interdepedensi, artinya saling bergatung satu sama lain. Kedua proses itu tidak dapat dibadakan untuk memperjelas penggunaannya. Hasil pertumbuhan anak mengalami perubahan fisik menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis pada anak, seperti mulai pada proses menggerakkan badannya hingga anak bisa berjalan pada umumnya.
Pada pertumbuhan anak mencakup suatu perubahan yang semakin sempurna pada sistem jaringan pada syaraf dan perubahan struktur jasmani yang lainnya. Dengan demikian, pertumbuhan dapat diartikan sebagai proses perubahan dan pematangan fisik pada anak. Pada umumnya perkembangan anak yang normal, seperti halnya melihat mereka tersenyum, merangkak, berjalan, berlari, melompat dan berbicara hingga memasuki sekolah pada usia sekolah dini adalah hal yang sebenarnya sangat menakjubkan bagi para orang tua maupun para ahli. Namun bagaimana jika hal itu tidak terjadi pada sebagian anak-anak kita, dimana mereka belum bisa berjalan di usianya, dan tidak mampu atau terlambat berbicara atau lambat dan tidak dapat diterima di lingkungan sosialnya sehingga anak lebih cendrung megurung dirinya, menghindar dari lingkungan sekitarnya atau tidak dapat diterima di sekolah pada umum.
Anak-anak ini pada umumnya mengalami gangguan dalam perkembangannya, baik gangguan yang mengenai tahap perkembangannya maupun gangguan yang bersifat emosional sehingga anak terkesan terlambat dibandingkan anak-anak seusianya. Pada dasarnya, terlambat berjalan tergantung faktor kematangan fisik dan psikologis anak. Faktor fisik, misalnya apakah otot kakinya sudah matang atau belum. Bila sudah matang, dengan sendirinya ia dapat berjalan. Tapi bila ada kelainan fisik misalnya ototnya lemah atau cacat, praktis ia terlambat berjalan. Bila tidak ada yang terjadi pada kelainan fisik dan sudah matang, harus dilihat pula kematangan psikologisnya, apakah ada kesiapan diri. Misalnya, tampak keinginannya untuk berjalan dituntun. Sebab, meski kakinya sudah kuat tapi bila ia belum mau berjalan, takkan terdorong untuk berjalan.
Menurut Enung Fatimah, ada faktor yang mempegaruhi pertumbuhan yang kurang normal pada organisme pada anak adalah sebagai berikut.[1]
1.         Faktor sebelum lahir, seperti peristiwa kekurangan nutrisi pada ibu janin.
2.         Faktor pada saat kelahiran, seperti pendarahan pada bagian kepala bayi yang disebabkan terkena dari dinding rahim ibu sewaktu ia dilahirkan dan efek susunan saraf pusat karena proses kelahiran bayi dilakukan dengan antan tang (tangver-lossing).
3.         Faktor yang dialami bayi sesudah lahir, pengalaman traumatik pada kepala, kepala bagian dalam terluka karena kepala janin terpukul atau mengalami serangan sinar matahari (zonnestiek). Infeksi pada otak atau selaput otak.
4.         Faktor fisiologis, bayi atau anak yang ditinggal ibu, ayah atau kedua orang tuanya cendrung akan mengalami gangguan fisiologis.
Kebanyakan orang tua mengharapkan anaknya bisa berjalan lebih cepat dibanding anak lainnya. Namun ternyata, perkembangan motorik khususnya kemampuan berjalan usia normal sebenarnya bervariasi mulai dari usia 9 bulan sampai 18 bulan. Orang tua harus mulai khawatir ketika anak tidak bisa berjalan ketika usianya sudah mencapai 18 bulan. Memang, bisa berjalan saat usia 15-18 bulan adalah masih dalam batas normal, tetapi biasanya anak seperti ini mempunyai gangguan motorik kasar dan gangguan keseimbangan yang ringan yang akan lebih baik diberikan intervensi dan stimulasi sejak dini. Menurut Sabri, Pertumbuhan fisik dan perkembangan mental psikologi manusia tersebut mempunyai hubungan yang sangat erat dalam keseluruhan proses perkembangan pribadi manusia.[2] Sedangkan, menurut Fatimah istilah pertumbuhan digunakan untuk menyatakan perubahan kuantitatif mengenai aspek fisik atau biologis.[3]
Pada umumnya, anak terlambat kadang-kadang disertai keterlambatan gerakan motorik kasar lainnya dan gangguan keseimbangan. Seringkali orangtua atau beberapa dokter menganggap anak tidak percaya diri atau trauma saat berjalan. Padahal, sebagian dari anak tersebut mengalami keterlambatan motorik kasar dan gangguan keseimbangan baik dalam tingkat yang ringan atau yang tidak ringan. Sebaiknya, orangtua memerhatikan perkembangan motorik kasar, gangguan vestibularis dan gangguan sensoris pada anak yang sering menjadi penyebab anak terlambat berjalan.
Sebenarnya, kemampuan berjalan tak perlu dilatih, karena akan muncul sendiri. Yang penting, beri perangsangan dengan makanan bergizi yang bisa menguatkan tulang dan otot kaki, rangsang ia menggerakkan badannya agar seluruh ototnya jadi bagus. Bila secara fisik belum terlalu siap dan ia pun tak menunjukkan keinginan untuk berjalan, tak usah dipaksa. Namun, tetap rangsanglah si kecil agar mau mencoba belajar berjalan. Nanti bila sudah terlihat ada keinginannya untuk berjalan dan ototnya sudah kuat, barulah kita mulai melatihnya.
Anak-anak dengan hambatan maupun gangguan dalam perkembangannya ini perlu mendapat perhatian dari para ahli serta support dari orang tua yang bertujuan membantu mereka agar dapat mengelola potensi yang ada sehingga mereka dapat mengontrol tingkah lakunya dan melaksanakan tugas-tugas perkembangannya. Diharapkan anak-anak ini dapat masuk ke lingkungan sekolah dan berbaur dalam kehidupan sosial yang normal.
Anak-anak dengan gangguan perkembangan sangat membutuhkan terapi khusus. Terapi yang dimaksud merupakan pendidikan yang mengkombinasikan terapi dan pendidikan formal yang bertujuan mengubah perilaku negatif anak menjadi perilaku positif, dengan berorientasi pada kelebihan dan kekurangan si anak, serta mempunyai tujuan jangka panjang mengantarkan mereka menjadi seseorang yang berhasil di bidangnya sesuai dengan kemampuannya.
          Berdasarkan uraian di atas maka, dengan dasar inilah yang mendorong penulis untuk tertarik menganalisis masalah dengan judul Keterlambatan Perkembangan Berjalan Pada Anak

B.        Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan diatas, maka penulis telah merumuskan masalah pokok yaitu
1.         Apakah yang menyebabkan keterlambatan perkembangan berjalan pada anak ?
2.         Bagaimanakah keterlambatan perkembangan berjalan pada anak ?

C.        Tujuan
Berdasarkan Rumusan masalah yang telah dikemukakan diatas, maka penulis telah merumuskan tujuan pokok utama yaitu
1.         Untuk mengetahui penyebab keterlambatan perkembangan berjalan pada anak.
2.         Untuk mengetahui bagaimanakah keterlambatan perkembangan berjalan pada anak.

D.        Manfaat
1.         Manfaat Teoretis
a.        Bagi peneliti berikutnya, diharapkan sebagai sumber referensi dan acuan untuk meningkatkan pemahaman dan penguasaan peneliti tentang keterlambatan perkembangan bejalan pada anak.
b.        Bagi orang tua, diharapkan dapat memperoleh pengetahuan tentang teori keterlambatan perkembangan bejalan pada anak.
2.         Manfaat Praktis
a.        Bagi peneliti, diharapkan dapat memperoleh pengalaman riil dan menerapkan teori keterlambatan perkembangan bejalan pada anak.
b.        Bagi orang tua, diharapkan dapat menjadi sebagai pedoman alternatif  dan cara mengetahui keterlambatan perkembangan bejalan pada anak.


 BAB II : LANDASAN TEORI
  
A.        Perkembangan pertumbuhan fisik anak
Suatu hal yang sangat menggembirakan ketika kita mendengar tentang perkembangan pertumbuhan fisik anak yang secara normal. Namun ketika kita mendengar bahwa pertumbuhan fisik anak mengalami gangguan, sebagai orang tua umumnya mengalami kesulitan dalam menangani pertumbuhan fisik anak. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan fisik menurut Fatimah adalah sebagai berikut: Pengaruh keluarga, Pengaruh gizi, Gangguan emosional, Jenis kelamin, Status sosial ekonomi, Kesehatan, Pengaruh bentuk tubuh.[4]
Sebenarnya dalam perkembangan psikologis anak memiliki bahasan pokok yaitu perkembangan rohani manusia yang dialami sejak ia lahir sampai menjadi dewasa.
Dalam proses perkembangan rohani itu terjadi sebuah perubahan yang terus menerus, tetapi perkembangan itu tetap merupakan suatu kesatuan. Diantaranya  masa perkembangan bayi, masa kanak-kanak, masa anak sekolah, masa remaja (pubertas dan adolesen), dan masa dewasa. Hal ini perlu diperhatikan perkembngan anak sejak lahir karena berguna untuk mengarahkan perkembangan pada masa bayi hingga bisa anak perlahan-lahan mulai mengenal lingkungan sekitarnya.
Prof. Arthur T. Jersil dalam bukunya, Child Psychologiy, 1962. Mengemukakan tentang masa mengandung dan masa kelahiran.[5]
a.         Masa mengandung


Kita tidak dapat memungkiri adanya kenyataan bahwa masa mengandung berbagai masalah yang bersifat khusus yang erat kaitannya dengan keseluruhan cara hidup wanita. Bila pada masa mengandung terdapat pula kesukaran yang bersifat khusus, seperti kondisi keuangan yang kurang memadai, kewajiban rumah tangga yang cukup berat, kekalauatan menghadapi kenyataan yang ada, maka peristiwa kehamilan itu merupakan percobaan yang sungguh berat.
b.         Masa kelahiran
Kelahiran dapat diartikan sebagai kehadiran bayi dikalangan keluarga. Sebelum itu ia berada dalam kandungan ibu, berwujud tidak lebih dari sebuah sel tunggal, kemudian mengalami perubahan kehidupan kedunia yang fana ini. Ketika anak yang lahir perlu diperhatikan ciri-ciri bayi seperti berat, panjang, dan bentuk rambutnya. Bayi yang baru lahir merupakan makhluk kecil yang tidak berdaya karena kelangsungan hidupnya bergantung pada belas kasihan dan pertolongan orang lain. Untuk kelangsungan hidup itu alam membekali dua kepandaian yang disebut insting yaitu insting mengisap dan insting menagis.
Letter D. Crow dalam bukunya Human Development and Learning, 1956. Mengemukakan adanya tiga proses dalam perkembangan yaitu childhood, maturity, dan adulthood.[6]
1.         Childhood yaitu mas-masa yang mencakup masa kandungan, masa kelahiran, masa bayi, masa kanak-kanak, dan masa anak sekolah.
2.         Maturity yaitu suatu proses perkembangan ketika seseorang mengalami kematangan sebelum ia memasuki masa kedewasaannya.
3.         Adulthood yaitu masa memasuki kedewasaannya.  Masa ini mencakup waktu yang lama sekali yaitu masa wal kedewasaan, masa pertengahan kedewasaan, dan masa akhir kedewasaan.

B.        Prinsip-prinsip perkembangan anak
Sajian tentang prinsip perkembangan tersebut mencakup perkembangan dengan perubahan, bandingan perkembangan awal dengan perkembangan selanjutnya, hubungan perkembangan dengan proses kematangan dan belajar, karakteristik dan urutan pola perkembangan, perbedaan individu dalam perkembangan, karakteristik setiap periode perkembangan, harapan sosial pada setiap periode perkembangan dan bahaya bahaya potensial yang dikandungnya, dan variasi kebahagiaan pada berbagai periode perkembangan. Prinsip-prinsip perkembangan ini tidak perlu Anda hafalkan, tetapi yang penting Anda dapat memahami dan menerapkannya ketika berinteraksi dengan peserta didik.
1.         Perkembangan melibatkan perubahan
Berkembang berarti mengalami perubahan, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Perubahan secara kuantitatif disebut juga pertumbuhan. Peserta didik/anak tidak saja menjadi bertambah besar secara fisik, tetapi juga ukuran dan struktur dalam organ dan otak meningkat. Pada pertumbuhan ada peningkatan ukuran (berat dan tinggi), maupun struktur atau proporsi tubuh. Perubahan secara kualitatif ditandai dengan adanya perubahan fungsi yang besifat progresif/maju dan terarah. Ada keterkatian antara perubahan yang satu dengan yang lain, maupun sebelum dan sesudahnya.
Perubahan dalam perkembangan terjadi karena adanya dorongan dalam diri individu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan untuk merealisasikan/ mengakutalisasikan dirinya. Selain terjadi perubahan dalam bentuk penambahan ukuran dan proporsi, terdjadi juga gejala hilangnya ciri-ciri lama dan munculnya ciri-ciri baru. Misalnya, jika terjadi rambut rontok maka akan tumbuh rambut baru, kemampuan bahasa anak berubah dari sekedar menangis sampai mampu berbicara dan berkomunikasi dengan orang lain.

2.         Perkembangan awal lebih kritis dari pada perkembangan selanjutnya
Tahun-tahun awal kehidupan anak (0-5 tahun) merupakan saat yang kritis bagi perkembangan selanjutnya. Perkembangan awal kehidupan merupakan landasan bagi pembentukan dasar-dasar kepribadian seseorang. Perilaku yang terbentuk cenderung bertahan dan mempengaruhi sikap perilaku anak sepanjang hidupnya. Pada tahun tahun awal, anak belajar menyesuaikan dan membiasakan diri dengan berbagai hal yang ada di sekitarnya. Pada saat ini juga terbentuk kepercayaan dasar (basic trust) yang sangat penting dan berpengaruh terhadap perkembangan kepribadian anak selanjutnya.
Beberapa kondisi yang mempengaruhi dasar awal perkembangan antara lain: hubungan antarpribadi terutama dengan anggota keluarga, keadaan emosi yang terbentuk karena sikap menerima atau menolak dari orang tua atau anggota keluarga yang lain, cara atau pola pengasuhan anak, latar belakang keluarga, serta rangsangan yang diberikan. Anak yang kelahirannya tidak diharapkan, misalnya, akan mempengaruhi sikap ibu dan anggota keluarga lain untuk tidak terlalu peduli, kurang memberikan kasih sayang, dll. Hal ini membuat anak merasa diabaikan, tidak diperlukan, tidak dikasihi, dan tidak nyaman, yang dapat berakibat lebih lanjut bagi perilaku anak untuk melakukan berbagai kegiatan yang dapat menarik perhatian orang lain atau sebaliknya anak menjadi pendiam dan menarik diri.
Sikap dan perilaku anak yang terbentuk pada tahun-tahun awal kehidupan cenderung bertahan/menetap dan mewarnai kepribadian dan sikap perilaku anak dalam berinteraksi dengan diri dan lingkungan selanjutnya. Sikap dan perilaku yang terbentuk agak sulit diubah, meskipun tidak berarti tidak dapat berubah sama sekali. Akan tetapi, pengubahan sikap dan perilaku tersebut (terutama yang kurang baik/negatif) memerlukan motivasi dan usaha keras dari orang yang bersangkutan untuk mau berubah dan memperbaiki perilaku kebiasaan yang kurang baik tersebut.

3.         Perkembangan merupakan hasil proses kematangan dan belajar
Menurut teori Konvergensi yang dikemukakan oleh Stern, perkembangan seseorang merupakan hasil proses kematangan dan belajar. Stern memadukan atau mengkonvergensikan teori Naturalisme dan Empirisme. Menurut teori Naturalisme, perkembangan seseorang terutama ditentukan oleh faktor alam (nature), bakat pembawaan, keturunan/heriditas seseorang, termasuk di dalamnya kematangan seseorang.. Sementara itu, teori Empirisme berpendapat bahwa perkembangan seseorang terutama ditentukan oleh faktor lingkungan tempat anak/individu itu berada dan tumbuh-kembang, termasuk di dalamnya lingkunan keluarga, sekolah, dan belajar anak.
Kenyataannya, faktor pembawaan maupun lingkungan saling mempengaruhi dalam perkembangan seseorang. Kedua faktor tersebut dapat dibedakan tetapi tidak dapat dipisahkan dalam perkembangan seseorang. Keduanya saling berinteraksi dan mempengaruhi.Seorang anak yang mempunyai bakat musik, misalnya, perkembangan bakat atau kemampuan bermain musiknya tidak akan optimal apabila tidak mendapatkan kesempatan belajar musik. Jadi, potensi anak/peserta didik yang sudah ada/dibawa sejak lahir akan bekembang optimal, apabila lingkungan mendukungnya. Dukungan itu di antaranya dengan penyediaan sarana prasarana serta kesempatan untuk belajar dan mengembangkan potensi dirinya.

4.            Perkembangan Mengikuti Pola Tertentu yang dapat Diramalkan.
            Perubahan akibat perkembangan yang terjadi pada seseorang mengikuti pola urut tertentu yang sama, walaupun kecepatan masing-masing individu berbeda-beda. Perkembangan fisik dan psikis bayi, misalnya, mengikuti hukum arah perkembangan yang menyebar ke luar dari titik poros sentral tubuh ke anggota-anggota tubuh (proxomodistal), serta menyebar ke seluruh tubuh, dari kepala ke kaki (cephalucaudal). Demikian juga, pada perkembangan pola anak belajar berjalan. Sebelumnya, anak mampu duduk lebih dahulu, berdiri, baru dapat berjalan, dan kemudian berlari. Urutan pola ini tetap pada setiap anak, hanya berbeda dalam kecepatan atau tempo yang dibutuhkan setiap anak untuk dapat berjalan.
Berkenaan dengan pola tertentu dalam perkembangan dikenal hukum tempo dan irama perkembangan. Tempo perkembangan adalah waktu yang dibutuhkan seseorang untuk mengembangkan aspek tertentu pada dirinya. Ada yang membutuhkan waktu yang cepat atau sebentar, sedang, atau lambat dalam belajar atau mengembangkan kemampuan aspek tertentu. Irama perkembangan adalah ritme atau naik turunnya gejala yang tampak akibat perkekembangan aspek tertentu.
Pada saat perkembangan tertentu anak tampak tenang atau goncang/gelisah. Pada periode perkembangan sekurangnya ada dua periode di mana anak mengalami kegon-cangan atau pancaroba. Pertama, pada masa krisis/menentang pertama (2-3 tahun) di mana kemauan/kehendak anak mulai berkembang dan ingin mandiri sehingga menentang ketergantungan dirinya pada orang tua atau orang lain. Kedua, pada masa krisis/ menentang kedua (14-17 tahun) anak ingin melepaskan diri dari orang tua/orang dewasa dan mencari sampai menemukan jati dirinya sebagai manusia dewasa yang mempunyai karakteristik tertentu.

5.            Pola Perkembangan Memiliki Karakteristik Tertentu.
            Pola perkembangan, selain mengikuti pola tertentu yang dapat diramalkan, juga terdapat pola-pola perkembangan karakteristik tertentu. Perkembangan bergerak dari tanggapan/persepsi yang umum menuju yang lebih khusus. Pada awal anak belajar atau berinteraksi dengan lingkungan, anak mendapat tanggapan secara umum, baru kemudian secara bertahap tanggapan/pessepsi anak semakin khusus dan terperinci. 
     Perkembangan pun berlangsung secara berkesinambungan. Hal ini berarti, perkembangan aspek sebelumnya akan mempengaruhi perkembangan selanjutnya. Demikian pula ada korelasi atau hubungan dalam perkembangan, artinya pada waktu perkembangan fisik berlangsung dengan cepat, maka terjadi pula perkembangan aspek-aspek lainnya, seperti perkembangan ingatan, penalaran, emosi, sosial, dll. 
Kondisi yang mempengaruhi pola perkembangan ada yang bersifat permanen/ tetap seperti sebelum dan saat kelahiran (cacat, memiliki bakat tertentu), tetapi ada pula yang bersifat temporer seperti kondisi lingkungan (sakit, interaksi dengan anggota keluarga dan teman, kondisi sosial budaya, dll).

6. Terdapat perbedaan individu dalam perkembangan.
            Dalam perkembangan seseorang, selain terdapat pola-pola umum yang sama dan dapat diramalkan, terdapat pula perbedaan pada hal-hal yang khusus. Adanya perbedaan individu dalam perkembangan disebabkan setiap anak adalah individu yang unik, yang satu sama lain berbeda, kendati anak kembar. Perbedaan individu itu disebabkan oleh faktor internal seperti sex atau jenis kelamin, faktor keturunan atau heriditer, juga faktor eksternal seperti faktor gizi, pengaruh sosial budaya, dll. Perbedaan perkembangan juga terjadi antara lain dalam kecepatan dan cara berkembang.
Menurut Fatimah setiap individu memiiki ciri, sifat bawaan (heredity), dan karakteristik yang diperoleh dari pengaruh lingkungan sekitarnya.[7] Sedangkan, menurut Sabri pengaruh lingkungan yang terdapat pada dalam diri individu seperti kondisi organ, perubahan-perubahan organis yang disadari maupun yang tidak disadari yang suatu saat memberikan rangsangan atau mempengaruhi tingka laku individu.[8]
Dengan mengetahui adanya perbedaan individu, maka kita tidak dapat berharap semua anak pada usia tertentu akan memiliki kemampuan perkembangan yang sama. Dan karenanya, kita tidak dapat memperlakukan semua anak dengan cara yang sama. Pendidikan anak harus bersifat perseorangan. Maksudnya, pendidikan dirancang dan dilaksanakan dengan memperhatikan perbedaan, kondisi, bakat dan kemampuan serta kelemahan setiap individu anak. Dengan pendidikan dan perlakuan yang demikian, diharapkan setiap anak dapat berkembang optimal sesuai dengan potensi dirinya.

7. Setiap Periode Perkembangan Memiliki Karakteristik Khusus
          Setiap anak/peserta didik memang merupakan individu yang berbeda, yang harus diperlakukan berbeda secara individual. Namun demikian, pada perkembangan secara keseluruhan dan juga pada periode atau tahapan perkembangan dalam kehidupan seseorang, terdapat pola-pola umum. Dengan memperhatikan karakteristik khusus pada setiap periode atau tahapan perkembangan, maka diharapkan kita mendapat gambaran mengenai apa yang akan terjadi sehingga dapat menyikapinya dengan tepat dan membantu perkembangan anak secara optimal.
Para ahli mengemukakan berbagai macam pembagian periode atau tahap perkembangan yang berbeda-beda. Salah satu pembagian periode perkembangan yang dikemukakan oleh
Sabri adalah masa sebelum lahir (Prenatal Period), Masa bayi baru lahir (New Born), Masa bayi (Babyhood), Masa Kanal-kanak awal (Early Childhood), Masa kanak-kanak akhir (Letter childhood), Masa remaja (Adolescence), Masa dewasa awal (Early Adulthood), Masa dewasa madya (Middle Adulthood), Masa bayi lanjut (Letter Adulthood).[9] Menurut Santrock, periode perkembangan yang paling luas digunakan untuk menggambarkan perkembangan seorang anak yaitu periode prakelahiran (prenatal period), masa bayi (Infancy), masa kanak-kanak awal (Early Childhood), masa kanak-kanak tengah dan akhir (Middle and late childhood), masa remaja (adolescence).[10]
Peralihan periode perkembangan sebelumnya ke periode berikutnya ditandai oleh gejala keseimbangan dan ketidakseimbangan yang terjadi pada setiap individu. Apabila individu telah mampu mengadakan penyesuaian dirinya dengan perkembangan yang terjadi, maka terbangunlah suatu keseimbangan (equilibrium). Selanjutnya, individu berupaya melepaskan diri dari ketergantungannya dengan lingkungan atau keadaan sebelumnya untuk mencari sesuatu yang lebih baru sehingga terjadi keadaan ketidakseimbangan (disequilibrium). Hal ini terjadi secara berkelanjutan dalam perkembangan kehidupan seseorang.

8. Terdapat Harapan Sosial pada Setiap Periode Perkembangan
          Pada setiap periode perkembangan juga terdapat harapan sosial, yang oleh Havighurst disebut tugas perkembangan (development task). Mengingat pentingnya peran tugas perkembangan pada setiap periode perkembangan, maka akan dibahas secara tersendiri khususnya tugas perkembangan pada periode anak usia SD/MI (6-12 tahun).
Seseorang dianggap berperilaku normal apabila mampu melakukan tugas perkembangan sesuai dengan tuntutan sosial pada periode tertentu dengan menunjukkan pola perilaku yang umum, dan perilaku bermasalah apabila individu tidak berhasil memenuhi tugas perkembangan atau mengalami kesulitan dalam mengadakan pernyesuaian perilaku, sesuai dengan tuntuan sosial dan pola perilaku yang muncul pada periode tertentu. Perilaku bermasalah pada periode perkembangan terjadi karena adanya keterlambatan ataupun percepatan perkembangan aspek tertentu pada diri seseorang dibandingkan dengan gejala perkembangan aspek tertentu pada umumnya, dan individu tersebut mengalami kesulitan penyesuaian dengan teman-teman seusianya.
Peserta didik yang mengalami keberhasilan dalam menyelesaikan tugas perkembangannya akan mengalami rasa bahagia. Sebaliknya, peserta didik yang menga-lami kegagalan atau kekurangberhasilan dalam menyelesaikan tugas perkembangannya, akan merasa kurang bahagia sehingga dapat menghambat perkembangan selanjutnya.

9.      Setiap Perkembangan Mengandung Bahaya Potensial/Resiko
Bahaya potensial atau resiko yang terjadi karena peralihan antarperiode perkembangan, yakni dari periode perkembangan sebelumnya ke periode perkembangan selanjutnya, terjadi keadaan ketidakseimbangan dan adanya tuntutan sosial terhadap peserta didik yang sedang berkembang. Bahaya potensial tersebut dapat berasal dari dalam individu, baik secara fisik maupun psikis, juga dapat distimulasi dari luar sehubungan dengan masalah-masalah penyesuaian akibat keadaan ketidakseimbangan dan tuntuan sosial untuk menyelesaikan tugas perkembangan itu.
Dengan menyadari adanya bahaya potensial atau resiko pada setiap periode perkembangan, kita perlu bersikap bijaksana dalam menghadapi gejolak perilaku peserta didik. Hal ini akan dapat mencegah atau meminimalkan dampak negatif akibat perkembangan setiap periode pada diri mereka.

10.   Kebahagiaan Bervariasi pada Berbagai Periode Perkembangan
Kebahagian dalam perkembangan sangat bervariasi karena sifatnya subjektif. Rasa kebahagiaan itu dipersepsi dan dirasakan setiap orang dengan cara yang sangat bervariasi. Akan tetapi,banyak orang berpendapat bahwa masa anak merupakan periode yang membahagiakan dibandingkan dengan periode-periode lainnya.
Kebahagiaan pada masa kecil memegang peranan penting dalam perkembangan seseorang karena menjadi modal dasar bagi kesuksesan perkembangan dan kehidupan selanjutnya. Anak yang bahagia tercermin pada sosok dan perilakunya. Biasanya mereka sehat dan energik. Oleh karena itu, pada masa perkembangan, guru maupun orang tua perlu membekali anak dengan motivasi yang kuat, menyalurkan energi anak pada kegiatan-kegiatan bermanfaat, melatih mereka menghadapi dan menerima keadaan ketidakseimbangan dan situasi sulit dengan lebih tenang dan tidak panik, serta mendorong mereka untuk membina hubungan sosial secara sehat.
Berdasarkan hasil penelitian, kebahagaian seseorang dipengaruhi oleh penerimaan (acceptance) dan kasih sayang (affection) dari orang-orang di sekitarnya, serta prestasi (achievement) yang dicapai oleh seseorang dalam kehidupannya.

C.        Perkembangan gerakan motorik normal
Pada masa perkembangan anak hal yang perlu kita ketahui adalah motorik pada anak. Menurut Zulkifi Motorik adalah segala sesuatu yang ada hubungannya dengan gerakan-gerakan tubuh.[11] Ada tiga unsur yang memegang peranan yaitu otot, otak, dan saraf. Gerakan-gerakan tubuh yang dimotori dengan kerja sama antara otot, otak, dan saraf-saraf dinamakan motorik. Mula-mula bayi dapat mengusai otot-otot bibir, lidah, mata dan sebagainya. Kemudian iya menguasai otot-otot leher dan bahunya[12]. Pada anak yang berusia 3 bulan, sudah dapat menggerak-gerakkan kepanyanya mencari-cari sumber bunyi, mengikuti benda dangan matanya. Pada saat inilah ada artinya anak diberi alat mainan, misyalnya balon berwarna yang dgantungkan diatas ayunannya. Pada anak yang berusia 4 bulan, jika ia ditelungkupkan, mencoba-coba mengangkat kepalnya walaupun hanya beberapa detik. Selanjutnya ia menguasai lengan, tangan, tungkai dengan kakinya. Latihan itu umumnya dicari-cari sendiri, dilakukan dengan sukarela dan gembira. Anak yang berusia 5 bulan dapat menggerakkan lengannya kearah tertentu, ke salah satu benda yang diihatnya. Selanjutnya ia dapat memegang sesuatu. Ada kemungkinan batas-batas usia yang disebutkan disini tidak sesuai dengan usia anak yang sedang anda amati, sebab batas-batas usia itu sebenarnya sangat relatif.
1.         Belajar masa berjalan
Masa bayi berlangsung lebih-kurang satu setengah tahun lamanya. Masa ini penuh dengan latihan-latihan, dan banyak kemajuan yang dapat dicapainya. Dalam kesempatan yang terbatas ini, tentu tidak semua kegiatan dapat kita bicarakan yang terpenting adalah belajar berjalan dan belajar berbicara. Untuk sementara lebih dahulu kita membicarakan belajar berjalan.
Hasil penelitian A. Gesell mengemukakan tentang kemajuan-kemajuan yang dicapai dalam berjalan.[13] Sedangkan, pendapat Gasell itu tidak jauh berbeda dengan pendapat Mary M. Shirley tentang bayi yang belajar duduk, merangkak, dan berjalan.[14] Kedua pendapat tokoh diatas disesuaikan dengan keadaan iklim tropis di Indonesia dalam sebuah “Daftar Kemajuan” sebagai berikut :
a.         Umur 1 bulan, bayi hanya bisa mengenal gerak. Setelah umurnya bertambah, ia mulai berlatih menggerak-gerakkan tubuhnya.
b.         Umur 2 bulan, ia menggerakkan dan memutar kepalanya dengan susah payah.
c.         Umur 3 bulan, ia belajar membalikkan badannya. Tetapi setelah tertelungkup, seluruh badan dan mukanya terbenam diatas pembaringannya.
d.         Umur 4 bulan, pada waktu terlungkup, ia mencoba mengdongakkan kepalanya sedikit walaupun dalam waktu yang singkat sekali.
e.         Umur 5 bulan, setelah mampu menegakkan kepalanya, ia mencoba mengangkat dadanya dengan menopangkang kedua kakinya dan tangannya.
f.          Umur 6 bulan, sudah ada keinginannya untuk merangkak. Jika ia sedang menelungkup, kita letakkan sepotong mainan di depannya, ia menggerak-gerakkn kaki dan tangannya seolah-olah ia berenang, tetapi hasilnya belum tercapai karena otot-ototnya belum cukup kuat. Dengan bantuan diangkat sedikit badannya, ia dapat bergerak maju sedikit.
g.         Umur 7 bulan, ia dapat duduk sendiri dan berbaring berbalik-balik.
h.         Umur 8 bulan, ia dibantu belajar berdiri.
i.          Umur 9 bulan, ia dapat berdiri sendiri sambil berpegangan pada sisi-sisi meja dan kursi.
j.          Umur 10 bulan, jika otot-ototnya sudah cukup kuat serta sarafnya cukup mulai matang, ia mulai berlatih merangkak.
k.         Umur 11 bulan, ia belajar “merambat” dengan berpegangan pada perabot rumah tangga. Ayah membutkan mainan “alat berjalan” dari sepotong kayu pegangan yang ditusukkan mendatar ke dalam sepotong bambu. Bambu dapat berputar tegak pada sepotong kayu yang dipancangkan lurus ke dalam tanah. Dengan bantuan alat berjalan itu ia dapat berlatih.
l.          Umur 12 bulan. Ia mencoba berdiri sendiri. Selanjutnya ia berdiri sendiri.
Dalam prakteknya, usaha-usaha dan latihan yang terlalu bebas diberikan bisa meninggalkan kesan berupa bibit cacat pada tulang-tulang kakinya yang baru di kemudian hari muncul. Sehubungan dengan hal itu baiklah kita perhatikan, bahwa terlalu melepaskan atau terlalu mencampuri kurang baik dan tidak pada tempatnnya.
Menurut Thalen, 2000 dalam buku Sanrock Perkembangan Anak mengemukakan bahwa untuk berjalan lurus , bayi harus mampu menyeimbangkan diri di atas satu kaki saat yang lain berayun ke depan dan juga memindahkan berat badan dari satu kaki kekaki yang lain.[15] Pada bayi yang masi kecil dapat membuat gerakan kaki yang berganti-ganti yang diperlukan ketika berjalan. Jalan syaraf yang mengendalikan pergantian kaki telah ada sejak usia yang sangat dini, mungkin bahkan sejak lahir atau sebelumnya.
Bayi melakukan gerakan menendang berganti-ganti yang cukup sering sepanjang enam bulan pertama kehidupan saat mereka berbaring terlentang. Juga ketika bayi berusia 1 atau 2 bulan dipegangi dengan kaki menyentuh treadmill yang sedang bergerak, mereka menunjukkan langkah berganti-ganti yang terkoordinasi dengan baik. Meskipun memiliki kemampuan dini ini, kebanyakan bayi tidak belajar berjalan hingga sekitar ulang tahun pertama mereka.
Pada pencapaian motorik anak menurut Santrock bahwa tingkat perkembangan motorik di mulai pada tahap pertama, tengkurap, mengangkat kepala; tahap kedua, tengkurap, dada diangkat, menggunakan lengan untuk menahan; tahap ketiga, berguling; tahap keempat, menahan berat dengan kaki; tahap kelima, duduk tampa berpegangan; tahap keenam, berdiri dengan berpegangan; tahap ketujuh, menarik badan hingga berdiri; tahap kedelapan, berdiri menggunakan perabotan untuk bertahan; tahap kedelapan, berdiri dengan mudah; tahap kesembilan, berjalan dengan mudah.[16]


2.         Perkembangan gerakan motorik anak pada usia
Perkembangan motorik anak terbagi atas 3 tahapan yaitu tahap kognitif yaitu saat anak berusaha memahami keterampilan gerak tertentu, dan mempelajari apa saja yang dibutuhkannya untuk melakukan gerakan tersebut; tahap asosiatif, pada masa ini, anak mulai banyak melakukan gerakan dengan metode trial and error atau cara coba dan salah. Ketika anak melakukan sesuatu gerakan yang salah, maka gerakan tersebut akan dikoreksinya, agar tidak terulang kembali kelak; tahap autonomous, pada tahapan ini gerakan si anak merupakn respon yang lebih efisien dan otomatis dengan sedikit kesalahan terhadap gerakan yang ditujukan kepadanya. Adapun tahapan gerakan motorik anak pada usia yaitu,
a.         Usia 6-8 bulan yaitu duduk dan merangkak dengan dua dengkul kaki.
b.       Usia 12-18 bulan yaitu berdiri tanpa bantuan, Berjalan dengan merambat ke perabotan di rumah, Berjalan 2 atau 3 langkah tanpa bantuan, Berjalan 10-20 menit tanpa bantuan.
c.         Usia 18-24 bulan yaitu berjalan tanpa kesulitan, Menarik mainan sambil berjalan, Membawa mainan besar sambil berjalan, Naik/turun bangku tanpa bantuan, Menemukan cara sendiri untuk berjalan mundur, Bisa naik/turun tangga dengan bantuan.
d.         Usia 24-36 bulan yaitu umumnya mampu memanjat dengan baik, berjalan naik/turun tangga dengan menggunakan satu kaki per anak tangga, Berjalan jinjit.

3.         Urutan Perkembangan Motorik
a.         Bagian kepala
1)        Ocular melakukan gerakan: 4 minggu
2)        Senyum  social (untuk  menanggapi  senyuman orang lain): 3 bulan
3)        Koordinasi mata: 4 bulan
4)        Menegakkan  kepala:  dalam  posisi  tengkurap:  1 bulan, dalam posisi duduk: 4 bulan
b.         Bagian batang tubuh
1)        Membalik dari  miring  ke  telentang:  2  bulan,  dari terlentang ke miring: 4 bulan, lengkap: 6 bulan
2)        Duduk - menarik  ke  posisi  duduk:  4  bulan,  dengan bantuan: 5 bulan, tanpa bantuan: 9 bulan
3)        Organ  eleminasi - pengendalian  usus:  2  tahun, pengendalian kandung air seni: 2-4 tahun
c.         Tangan
1)        Gerakan bertahan: 2 minggu
2)        Mengisap jempol: 1 bulan
3)        Menggenggam dan menjangkau: 4 bulan
4)        Memegang dan menggenggam: 5 bulan
5)        Memungut benda dengan ibu jari: 8 bulan
d.         Kaki
1)        Mengesot: 6 bulan
2)        Merangkak; 7 bulan
3)        Maju perlahan-lahan –pada tangan dan lutut: 9 bulan, pada kedua tangan dan kedua kaki: 10 bulan
4)        Berdiri–dengan bantuan: 8 bulan, tanpa bantuan: 10 bulan
5)        Berjalan–dengan  bantuan:  11  bulan,  tanpa  bantuan: 12-14 bulan
e.         Konsep Dasar Gerak
1)        Kemampuan gerak dasar
a)        Kemampuan  lokomotor:  memindahkan  tubuh  dari satu tempat ke tempat lain atau untuk mengangkat tubuh ke atas. Berjalan, berlari dan sebagainya
b)        Kemampuan  non lokomotor:  dilakukan  di  tempat, tanpa  ada  ruang  gerak  yang  memadai.  Menekuk, dan  meregang,  mendorong  dan  menarik  dan sebagainya.
c)         Kemampuan manipulatif: lebih banyak melibatkan tangan dan kaki tetapi bagian tubuh yang lain juga dapat digunakan.
2)        Macam-macam gerakan
a)        Gerakan instinktif: dorongan dari dalam diri untuk memuaskan dorongan itu.
b)        Gerakan  refleks:  dorongan  dating  dari  luar berbentuk perangsang.
c)         Gerakan  spontan  (impulsif);  dorongan  atau perangsangnya datang  dari  dalam  diri  sendiri, mulanya dirasakan sebagai tidak bertujuan.
3)        Perkembangan Motorik Kasar dan Motorik Halus
a)        Motorik  kasar:  memacu  kemampuan  anak  saat beraktivitas  dengan  menggunakan  otot-otot  besarnya seperti:
-                 Nonlokomotor
-                 Lokomotor
-                 Manipulatif
b)        Motorik  halus:  memacu  kemampuan  anak  beraktivitas dengan menggunakan otot-otot halus.

Menurut Zulkifli Berdasarkan hukum irama perkembangan bahwa hukum irama berlaku untuk perkembangan setiap orang. Baik perkembangan jasmani maupun perkembangan rohani tidak selalu dialami perlahan-lahan dengan urut-urutan yang teratur, melainkan merupakan gelombang-gelombang besar dan kecik silih berganti. [17]


Gambar 1 : kegiatan berjaan dan berbicara



           
Garis-garis tebal yang melalui titik a dan titik c menunjukkan bahwa usaha anak belajar berjalan sedang ditingkatkan. Garis-garis tebal yang melalui titik b dan titik d (tidak kelihatan pada gamar) menunjukkan bahwa anak sedang berusaha belajar berbicara. Anak yang sedang giat-giatnya belajar berjalan, kegiatan belajar berbicaranya mereda untuk sementara, kemudian seluruh perhatiannya dialihkan untuk kegiatan berbicara.
Irama perkembangan mengemukakan pola perkembangan yang dialami seorang anak. Anak itu memusatkan perhatian untuk satu tugas perkembangan tertentu agar ia dapat tidur dengan tenang dan tidak sakit. Tempo perkembangan membandingkan perkembangan dua orang anak. Mereka berkembang sesuai dengan temponya masing-masing. Misyalnya anak laki-laki cepat pandai berjalan, anak perempuan cepat pandai berbicara.

4.         Ciri-ciri gerakan motorik anak menurut Zulkifli.[18]
a.         Gerak dilakukan dengan tidak sengaja, tidak ditujukan untuk maksud-maksud tertentu.
b.         Gerak yang dilakukan tidak sesuai untuk mengangkat benda.
c.         Gerak serta. Mari kita perhatikan anak yang bermain-main dengan botol susunya, kelihatan bahwa mulut, leher dan kepalanya turut bergerak semuanya. Gerakan-gerakan yang berlebihan merupakan ciri-ciri dari motorik yang masih muda.

D.        Kriteria penggolongan keterlambatan berjalan
1.         Bisa berjalan usia 8 bulan - 12 bulan
Kemampuan berjalan sangat baik dan sangat cepat, biasanya anak demikian motorik kasar dan kemampuan keseimbangannya sangat baik. Pada kelompok ini mungkin tidak perlu intervensi atau stimulasi karena anak akan belajar berjalan sendiri dengan baik tanpa bantuan.
2.         Bisa berjalan usia 12 bulan - 15 bulan
Kemampuan berjalan biasa dan rata-rata anak seusia. Biasanya anak demikian motorik kasar dan kemampuan keseimbangannya normal. Pada kelompok ini mungkin intervensi atau stimulasi ringan akan lebih baik.
3.         Bisa berjalan usia 15 bulan - 18 bulan
Kemampuan berjalan normal tetapi kurang optimal. Biasanya anak demikian kemampuan motorik kasar dan kemampuan keseimbangannya kurang begitu baik. Pada kelompok ini perlu intervensi atau stimulasi ringan agar perkembangan motorik dan vestibularis lebih baik
4.         Bisa berjalan usia 18 bulan - 24 bulan
Kemampuan berjalan terlambat ringan. Biasanya anak demikian kemampuan motorik kasar dan kemampuan keseimbangannya tidak baik. Pada kelompok ini harus dilakukan intervensi atau stimulasi ringan agar perkembangan motorik dan vestibularis menjadi optimal. Sebaiknya dilakukan oleh arahan tenaga profesional seperti Dokter Spesialis Fisik dan Rehabilitasi
5.         Bisa berjalan usia 24 bulan - 32 bulan
Kemampuan berjalan terlambat berat . Biasanya anak demikian kemampuan motorik kasar dan kemampuan keseimbangannya buruk. Dalam keadaan seperti ini, biasanya disertai gangguan neurologis atau susunan saraf pusat. Pada kelompok ini harus dilakukan intervensi atau stimulasi ringan agar perkembangan motorik dan vestibularis menjadi optimal. Stimulasi seperti tersebut harus dilakukan oleh arahan tenaga profesional seperti Dokter Spesialis Fisik dan Rehabilitasi
6.         Belum bisa berjalan sampai usia 32 bulan
Kemampuan berjalan terlambat sangat berat . Biasanya anak demikian kemampuan motorik kasar dan kemampuan keseimbangannya sangat buruk. Dalam keadaan seperti ini, biasanya disertai gangguan neurologis atau susunan saraf pusat yang sangat berat seperti penderita Cerebral palsy. Pada kelompok ini harus dilakukan intervensi atau stimulasi ringan agar perkembangan motorik dan vestibularis menjadi optimal. Stimulasi seperti tersebut harus dilakukan oleh arahan tenaga profesional seperti Dokter Spesialis Fisik dan Rehabilitasi.


E.        Penyebab keterlambatan berjalan anak
Berbagai faktor yang dapat menyebabkan si anak lambat bereaksi. Menurut Musbikin faktor yang menyebabkan anak lambat berjalan yaitu kurangnya stimulasi, gangguan gizi ketika bayi, hingga gangguan sistem saraf.[19]
1.         Ketidakmatangan Persyarafan
Kemampuan anak melakukan gerakan motorik sangat ditentukan oleh kematangan syaraf yang mengatur gerakan tersebut. Ada faktor yang menjadi penghambat menurut Gandasetiawan antara lain faktor plah asuh, faktor biologis, mengalami kedua faktor pada polah asuh dan biologis pada anak.[20] Pada waktu anak dilahirkan, syaraf-syaraf yang ada di pusat susunan syarat belum berkembang dan berfungsi sesuai dengan fungsinya, yaitu mengontrol gerakan-gerakan motorik. Pada usia ± 5 tahun, syaraf-syaraf ini sudah mencapai kematangan, dan menstimulasi berbagai kegiatan motorik. Otot-otot besar yang mengontrol gerakan motorik kasar, seperti berjalan,berlari, melompat dan berlutut, berkembang lebih cepat bila dibandingkan dengan otot-otot halus yang mengontrol kegiatan motorik halus, seperti menggunakan jari-jari tangan untuk menyusun puzzle , memegang pensil atau gunting membentuk dengan plastisin atau tanah liat, dan sebagainya.

2.         Gangguan vestibularis atau keseimbangan
Pada anak yang mengalami dysfunction of sensory integration (DSI) sering mengalami gangguan keseimbangan. Gangguan keseimbangan yang terjadi ini seringkali dianggap anak kurang percaya diri. Gangguan keseimbangan ini biasanya ditandai dengan anak takut saat berenang, menaiki mainan yang bergerak dan bergoyang seperti ayunan, mainan kuda-kudaan listrik dengan koin, naik lift atau eskalator.
Anak tidak suka naik umumnya di dalam mobil. Anak mungkin tidak kooperatif sebagai upaya menghindari sensasi yang membuat anak terganggu. Anak yang underreactive untuk input vestibular tampaknya tidak pusing bahkan setelah berputar untuk waktu yang lama, dan tampaknya menikmati gerakan cepat seperti berayun. Bila berjalan terburu-buru, gerakannya canggung, mudah tersandung atau jatuh. Dia mungkin tidak membuat upaya untuk menangkap dirinya sendiri ketika dia jatuh. Anak tampak kesulitan memegang kepalanya sambil duduk. Anak tidak cenderung untuk melakukannya dengan baik dalam olahraga. Dia mungkin memiliki gaya canggung, atau gerakan yang tidak biasa ketika bergerak lengan atau kepala. Biasanya juga disertai keterlambatan membaca, menulis, berbicara, dan persepsi visual-spasial yang khas.


3.         Keterlambatan ringan perkembangan motorik kasar
Seorang anak yang terlambat berjalan, kemungkinan juga terlambat dalam duduk dan merangkak. Namun sayangnya, keterlambatan ini bukanlah hal pertama yang mungkin disadari oleh para orangtua. Menurut dr. Andrew Adesman, kepala bagian perkembangan dan perilaku anak pada Schneider Children’s Hosptal di New York, Amerika Serikat, ketelambatan perkebangan motorik anak dikarenakan kemampuan perkembangan lebih lambat.[21] Perkembangan ini sangat bervariasi pada setiap anak. Sejumlah penybab yang dapat memicu perkembangan motorik dan kaki seorang anak menjadi terganggu dan bahkan terhambat sama sekali, yakni gangguan kualitas dan gangguan kuantitas. Jika ini penyebabnya, maka dokter akan melihat jalan anak dalam konteks yang berbeda dan mencari tahu berada dimana ia dalam rangkaian perkembangan motoriknya. Biasanya juga disertai keterlambatan membaca, menulis, berbicara, dan persepsi visual-spasial yang khas.

4.         Gangguan sensoris
Pada kasus tertentu, anak sering mengalami sensitif pada telapak tangan dan kaki. Sehingga hal ini mengakibatkan anak sering jinjit. Menurut Musbikin faktor penyebab terjadiny penyimpangan tumbuh kembang kaki anak, antara lain akibat kelainan bawaan, seperti telapak kaki ceper dan kelainan pada tulang pungul.[22] Selama ini, jalan jinjit atau Tip Toe masih belum diketahui penyebabnya. Meskipun bukan karena kelainan anatomis. Selama ini, orangtua menganggap hal itu adalah memang perilaku anak. Pada anak dengan gangguan sensoris raba biasanya disetai gangguan sensoris suara dan cahaya. Gangguan sensoris suara biasanya anak takut dan tidak nyaman ketika mendengar suara dengan frekuensi tertentu seperti suara blender, suara bayi menangis, suara gergaji listrik. Gangguan sensoris cahaya biasanya anak sangat sensitif terhadap cahaya terang dan sinar matahari.

F.        Faktor Predisposisi
Keterlambatan berjalan biasanya sering terjadi pada kelompok anak tertentu seperti :
1.         Bayi prematur, obesitas atau kegemukan, bayi lahir dengan berat bada rendah atau kurang dari 2.500 gram, anak dengan gangguan hipersensitif saluraan cerna seperti gastropoesepageal refluks, sering muntah, mual atau sering sulit buang air besar. Keadaan ini sering terjadi pada anak alergi atau hipersensitif saluran cerna.  Sangat jarang pada anak menderita tumor otak, retardasi mental dan cerebral palsy.
2.         Prognosis
a.         Anak dengan keterlambatan berjalan biasanya juga disetrai keterlambatan lainnya seperti keterlambatan merangkak, duduk, berlari atau melompat.
b.         Anak dengan keterlambatan berjalan biasanya juga disertai gangguan motorik kasar dan keseimbangan. Pada keadaan ini harus diwaspadai biasanya anak mudah terjatuh dan tersandung. Saat jatuhpun biasanya anak lebih tidak bisa menguasai diri sehingga sering terbentur kepala atau dagunya.
c.         Di masa depan anak dengan keterlambatan berjalan biasanya tidak menyukai olahraga atau nilai olahraganya tidak bagus. Anak seperti ini biasanya hanya senang melihat televisi, main game atau bermain di dalam rumah. Demikian juga saat sekolah biasanya hanya lebih senang menonton temannya yang sedang bermain di halaman.
d.         Tetapi pada anak dengan keterlambatan ringan motorik kasar biasanya akan mempunyai ketrampilan motorik halus yang sangat baik seperti kerajinan tangan, menggunting, main puzzle, main game atau permainan elektronik lainnya. Biasanya kemampuan tangan lebih baik daripada keterampilan kaki. Sehingga olahraga yang lebih disukai dan dikuasai adalah tenis, basket, badminton dibandingkan olahraga lari atau sepakbola.

G.       Penanganan keterlambatan berjalan anak
Jika terjadi keterlambatan si kecil dalam berjalan, maka langkah awal yang harus dilakukan adalah memastikan adanya gangguan persarafan dengan melakukan pemeriksaan neurologis, penilaian terhadap fleksibilitas sendi, kekuatan otot dan berbagai gerakan.
Bila penyebabnya disebabkan karena adanya keterlambatan motorik dan gangguan keseimbangan maka sebaiknya dilakukan beberapa stimulasi intervensi latihan untuk memperbaikinya. Stimulasi dan intervensi bila dilakukan pada keterlambatan berjalan yang ringan karena akan berdampak dengan kemampuan motorik lainnya dimasa depan.
Terapi fisik dilakukan tenaga terlatih khususnya Dokter Spesialis Fisik dan Rehabilitasi untuk kasus dengan gangguan keterlambatan berjalan ringan hingga berat.



 BAB III : KESIMPULAN

Menurut Thalen, 2000 dalam buku Sanrock Perkembangan Anak mengemukakan bahwa untuk berjalan lurus , bayi harus mampu menyeimbangkan diri di atas satu kaki saat yang lain berayun ke depan dan juga memindahkan berat badan dari satu kaki kekaki yang lain.[23] Pada bayi yang masi kecil dapat membuat gerakan kaki yang berganti-ganti yang diperlukan ketika berjalan. Jalan syaraf yang mengendalikan pergantian kaki telah ada sejak usia yang sangat dini, mungkin bahkan sejak lahir atau sebelumnya.
Menurut Musbikin faktor yang menyebabkan anak lambat berjalan yaitu kurangnya stimulasi, gangguan gizi ketika bayi, hingga gangguan sistem saraf.
Bila penyebabnya disebabkan karena adanya keterlambatan motorik dan gangguan keseimbangan maka sebaiknya dilakukan beberapa stimulasi intervensi latihan untuk memperbaikinya. Stimulasi dan intervensi bila dilakukan pada keterlambatan berjalan yang ringan karena akan berdampak dengan kemampuan motorik lainnya dimasa depan.



 DAFTAR PUSTAKA

Fatimah, Enung. Psikologi Perkembangan Peserta Didik. Bandung: CV Pustaka Setia, 2006.
Gandasetiawan, Ratih Zimmer. Mendesain Karakter Anak Melalui Sesomotorik. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2011.
Musbikin, Imam. Pintar Mengatasi Masalah Tumbuh Kembang Anak. Jogjakarta: FlashBooks, 2012.
Sabri, M. Alisuf. Pengantar Psikologi Umum & Perkembangannya. Jakarta:  Pedoman Ilmu Jaya, 2010.
Santrock, John W. Perkembangan Anak. Jakarta: Erlangga, 2007.

Zulkifli. Psikologi Perkembangan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006.





[1] Enung Fatimah. Psikologi Perkembangan Peserta didik. (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2006), hh. 42-43.
[2] M. Alisuf Sabri. Pengantar Psikologi Umum & Perkembangannya. (Jakarta:  Pedoman Ilmu Jaya, 2010),  h. 137
[3] Enung Fatimah. Psikologi Perkembangan Peserta didik. (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2006),  h. 11.
[4] Enung Fatimah. Psikologi Perkembangan Peserta didik. (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2006), hh. 55-56.
[5] Prof. Arthur T. Jersil, “Child Psychologiy,” dikutif langsung oleh Zulkifli, Psikologi Perkembangan. (Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 2006), pp. 5-6.
[6]  Letter D. Crow, “Human Development and Learning,” dikutip oleh Zulkifli, Psikologi Perkembangan. (Bandung, PT Remaja Rosdakarya,  2006), pp.  6-7.
[7] Enung Fatimah. Psikologi Perkembangan Peserta didik. (Bandung: CV. Pustaka Setia, 2006), p. 12.
[8] M. Alisuf Sabri. Pengantar Psikologi Umum & Perkembangannya. (Jakarta:  Pedoman Ilmu Jaya, 2010), h. 34.
[9] M. Alisuf Sabri. Pengantar Psikologi Umum & Perkembangannya. (Jakarta:  Pedoman Ilmu Jaya, 2010), hh. 149-169.
[10] John W Santrock. Perkembangan Anak. (Jakarta: Erlangga, 2007), h.21.

[11] Zulkifli, Psikologi Perkembangan. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), h. 31.
[12] Zulkifli, Psikologi Perkembangan. (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2006), h. 25.
[13] A. Gesell, “Child Development, 1949,” dikutif langsung oleh Zulkifli, Psikologi Perkembangan. (Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 2006), p. 27
[14] Mary M. Shirley, “The First Two Years, 1933,” dikutif langsung oleh Zulkifli, Psikologi Perkembangan. (Bandung, PT Remaja Rosdakarya, 2006), p. 27
[15] Thalen, 2000. dikutif langsung oleh John W Santrock. Perkembangan Anak. (Jakarta: Erlangga, 2007), p. 210.
[16] John W Santrock. Perkembangan Anak. (Jakarta: Erlangga, 2007), h. 212.

[17] Zulkifli. Psikologi Perkembangan.(Bandung, PT Remaja Rosdakarya. 2006), H. 17
[18] Zulkifli. Psikologi Perkembangan.(Bandung, PT Remaja Rosdakarya. 2006), h. 25
[19]Imam Musbikin. Pintar Mengatasi Masalah Tumbuh Kembang Anak. (Jogjakarta: FlashBooks, 2012), p.51.
[20]Ratih Zimmer Gandasetiawan. Mendesain Karakter Anak Melalui Sesomotorik. (Jakarta: PT BPK Gunung Mulia, 2011), h.73.

[21] dr. Andrew Adesman, Perkembangan dan perilaku anak pada Schneider Children’s Hosptal di New York, Amerika Serikat dikutif langsung oleh Imam Musbikin. Pintar Mengatasi Masalah Tumbuh Kembang Anak. (Jogjakarta: FlashBooks, 2012), p.72-73
[22] Imam Musbikin. Pintar Mengatasi Masalah Tumbuh Kembang Anak. (Jogjakarta: FlashBooks, 2012), p.74

[23] Thalen, 2000. dikutif langsung oleh John W Santrock. Perkembangan Anak. (Jakarta: Erlangga, 2007), p. 210.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa "Post a Comment" dengan memberi saran, kritikan yang dapat membangun perbaikan content isi Blog Rumah Aiyra . Terima Kasih

Subscribe

Ikuti Perkembangan Rumah Aiyra