Selamat Datang di Rumah Aiyra

Sunday, 10 September 2017

Pertumbuhan dan Perkembangan Anak Usia Dini

Minat Bermain Pada Anak Usia 1 – 2 Tahun (13-24 bulan)[1]
Pada usia 1-2 tahun gerakan tubuh, pengamatan, daya pikir dan sosial terus berkembang. Hal ini tentunya mempengaruhi cara bermain dan alat-alat yang digunakan dalam bermain.  Terdapat beberapa indikator perkembangan yaitu kemampuan motorik,  kemampuan perspektif kognitif, dan kemampuan sosial dan bahasa.
A.     Kemampuan Motorik
-          Melatih keterampilan fisik
-          Suka untuk menarik, meletakkan, mendorong, membongkar, menyusun, memukul, mengosongkan, dan mengisi.
-          Senang mendorong dan menarik sambil berjalan.
-          Suka menaiki dan dapat mengatur langkah untuk menaiki tangga rumah.
-          Mencoba dan meniru ketika berbusana.
-          Mempertunjukkan kemampuan pada benda-benda kecil.
-          Menggerakkan dan memindahkan mainan dari suatu tempat ke tempat lain.
-          Menendang dan menangkap bola besar.
-          Menggerakkan dan memutar tombol.

B.     Kemampuan Perspektif Kognitif
-          Memperlihatkan ketertarikan pada hubungan sebab akibat.
-          Memperlihatkan keinginan untuk selalu mencoba dengan  benda-benda.
-          Tertarik pada cara kerja benda yang bergerak/berpindah dan  bereaksi.
-          Menggabungkan benda-benda dengan benda lain.
-          Menunjukkan pemahaman dan fungsi-fungsi peralatan keluarga sederhana.
-          Menunjukkan ketertarikan pada benda-benda tersembunyi.
-          Mengelompokkan benda-benda sejenis.
-          Suka bermain air dan pasir.
-          Mencoret-coret pada kertas

C.    Kemampuan Sosial dan Bahasa
-          Bermain dalam suatu kelompok dan lebih banyak bersosialisasi.
-          Lebih menuntut adanya kebebasan.
-          Suka pada permainan meniru.
-          Menyatakan kasih sayang pada sesama.
-          Mulai tertarik dengan buku-buku bergambar.
-          Menyukai permainan interaktif seperti mainan.

Teori Piaget pada Perkembangan Kognitif  Masa Anak-anak[2].
Masa ini sebagian besar orangtua mengetahui perubahan intelektual yang menyertai pertumbuhan fisik anak, mereka mungkin mengalami kesulitan dalam menjelaskan sifat perubahan tersebut. Piaget memandang anak sebagai partisipan aktif di dalam proses perkembangan ketimbang sebagai resipien aktif perkembangan biologis atau stimuli eksternal. Piaget yakin bahwa anak harus dipandang seperti seorang ilmuan yang sedang mencari jawaban yang melakukan eksperimen terhadap dunia untuk melihat apa yang terjadi. Misyalnya, apa yang terjadi jika saya mendorong piring ini keluar dari meja ? atau seperti apa rasanya menggigit kuping beruang Teddy ini ?. berdasarkan hasil eksperimen miniatur itu menyebabkan anak menyusun “teori”  tentang bagaimana dunia fisik dan sosial beroperasi. (Piaget menyebutnya sekamata atau tunggal, skema) Saat menemukan benda atau peristiwa baru, anak berupaya untuk memahaminya berdasarkan sekema yang dimilikinya. (Piaget menyebut hal ini proses asimilasi : upaya untuk mengasimilasikan peristiwa baru ke dalam skema yang telah ada sebelumnya.) Jika skema lama tidak adekuat untuk mengakomodasi peristiwa baru, maka anak seperti layaknya seorang ilmuan yang baik. Memodifikasi skema dan memperluas teorinya tentang dunia. (Piaget menyebutnya proses revisi skema ini sebagai akomodasi.)
Karekteristik perkembangan kognitif menurut piaget, lahir – 2 tahun berdasarkan stadium sensomotorik yaitu
1.     Diferensiasi self (diri) dari objek.
2.     Mengenali self sebagai pelaku suatu tindakan dan mulai bertindak dengan sengaja. Misyalnya, menarik tali mobil atau menggoyang-goyagkan mainan untuk menghasilkan bunyi.
3.     Mencapai kepermanenan objek: menyadari bahwa benda-benda terus ada dan walaupun tidak ada lagi tertangkap oleh indra.
Berdasarkan  stadium praoperasional bahwa pada sekitar usia 11/2 sampai 2 tahun, anak mulai menggunakan bahasa. Kata, sebagai simbol, dapat mewakili benda atau kelompok benda, dan satu benda dapat menjadi simbol benda lain.

Perkembangan Bahasa[3]
Perkembangan terjadinya pada ketiga tingkat bahasa. Perkembangan dimulai pada tingkat fonem, berjalan ke tingkat kata dan morfem lain, dan kemudian pindah ke tingkat unit kalimat, atau sintasis.
A.     Fonem dan kombinasinya, ingatlah bahwa orang dewasa memiliki kemampuan yang baik untuk mendiskriminasikan bunyi berbeda yang bersusaian dengan fonem berbeda dalam bahasa mereka, tetapi buruk dalam membedakan bunyi yang berbeda yang berkorespondensi dengan fonem yang sama dalam bahasanya. Yang menarik, anak datang ke dunia dengan kemampuan membedakan bunyi yang bersusaian dengan fonem yang berbeda dalam semua bahasa. Apa yang beruba selama setahun pertama kehidupan adalah bayi mempelajari fonem mana yang relevan dengan bahasanya dan kehilangan kemampuan untuk membedakan bunyi-bunyi yang bersusaian dengan fonem yang sama dalam bahasanya. Fakta luar biasa tersebut ditentukan oleh eksperimen di mana bayi dipersentasikan pasangan bunyi secara berurutan sementara mereka sedang mengisap dot. Karena bayi mengisap lebih kuat jika mendapatkan stimulus baru dibandingkan stimulus yang telah dikenalnya, kecepatan pengisapan mereka dapat digunakan untuk mangatakan apakah mereka menghayati dua bunyi yang berurutan sebagai sama atau berbeda. Bayi yang berusia 1 tahun meningkatkan kecepatan pengisapannya hanya jika bunyi berturutan bersusaian dengan fonem yang berbeda dalam bahasanya sendiri.
Walaupun anak  belajar fonem mana yang relevan dalam tahun pertama kehidupannya,  diperlukan beberapa tahun bagi mereka untuk belajar bagaimana fonem dikombinasikan menjadi kata.

B.     Kata dan Konsep, pada sekitar usia 1 tahun, anak mulai berbicara. Anak 1 tahun telah memiliki konsep tentang banyak hal (termasuk anggota keluarga, hewan peliharaan, makanan, mainan, dan bagian tubuh), dan mereka mulai berbicara, mereka memetakan konsep tersebut kedalam kata-kata yang digunakan oleh orang dewasa. Pembendaharaan kata awal kira-kira sama semua pada anak. Anak 1 sampai 2 tahun berbicara terutama tentang orang (“Papa,” “Mama,” “Baby”), Hewan (“Anjing,” “ Kucing,” “ Bebek”), Kendaraan (“Mobil,” “ Truk,” “Kapal”), Mainan (“Bola,” “ Kotak,” “ Buku”), Makanan (“Jus,” “ Susu,” “ Kue), Bagian Tubuh (“Mata,” “ Hidung,” “ Mulut”), dan benda-benda rumah (“Topi,” “ Sendok”). Walaupun kata-kata tersebut menanamkan sebagian konsep anak kecil, tidak diragukan lagi mereka menamakan semuanya. Dengan demikian, anak kecil anak kecil seringkali  memiliki kesenjangan antara konsep yang diinginkan mereka komunikasikan dankata yang mereka miliki.

C.    Dari Kalimat Primitif ke Kalimat Kompleks, Pada sekitar usia 11/2 sampai 21/2 tahun, perolehan frasa dan unik kalimat, atau sintaks, dimulai.anak mulai mengkombinasikan kata tunggal menjadi ucapan dua kata, seperti “There cow” (merupakan proposisi dasar dalam “There’s the cow”), “Jimmy bike” (proposisi dari “That’s Jimmy’s bike”). Terdapat kualitas telegrafik tentang ucapan dua kata. Anak meninggalan kata gramatikal (seperti “a”, “an”, “the”, dan “is”), seperti morfem gramatikal lain seperti (akhiran “ing”, “ed”, dan “s”) dan memasukkan hanya kata-kata yang membawa isi yang paling penting. Walaupun singkat, ucapan itu mengekspresikan maksud paling dasar dari pembicara, seperti melokalisasi objek dan menggambarkan peristiwa dan tindakan.

  
Stimulasi Edukasi Berbasis Perkembangan
Menstimulasi Perkembangan Bicara Anak
TUJUAN
·      Anak dapat mengikuti instruksi sederhana
·      Anakmu sudah bisa ngomong berapa kata

METODE
Praktek langsung

MEDIA

KEGIATAN STIMULASI
·         Ceritakan kesibukan Anda. Omongkan dengan lantang apa saja yang sedang anda kerjakan dan lemparkan pertanyaan -pertanyaan untuk batita. “Teruslah bicara, walaupun  anda nampak konyol karena batita tak bisa menjawab pertanyaan tersebut.

·         Sebagai role model. Bila batita Anda mengatakan “cucu” untuk susu, gunakan pengucapan yang benar ketika Anda merespon, “Ini susumu.” Kembangkan penguasaan bahasanya dengan menambahkan kata-kata baru, misalnya “Susumu warnanya putih, enak sekali.” Strategi ini tak hanya akan menambah jumlah kosa katanya tapi juga mengajarkan cara kombinasi kata. Namun hindari mengoreksi ucapannya. “Menunjukkan kesalahan anak bisa membuatnya tak nyaman. Bahkan anak seusia itupun dapat mulai merasa bahwa apapun yang dilakukannya selalu salah di mata ibu,” kata Pam lagi.

·         Berlagak “bodoh”. Beri batita kesempatan untuk meminta dan mengungkapkan kebutuhannya sebelum Anda memberikan padanya. Contohnya, saat bermain, ia menggulirkan bola dan Anda tahu ia ingin Anda mengembalikan bola itu padanya, pura-pura saja Anda tidak mengerti, berikan ekspresi wajah bingung dan bertanya, “Ibu harus apa?” Jeda seperti ini akan menyemangatinya untuk berkomunikasi.

·         Tetap nyata. Hindari untuk mengucapkan kata berlebihan atau berbicara dalam bahasa slang atau bahasa pergaulan yang tak dimengerti balita usia 1-2 tahun. Orangtua wajib berbicara dalam kalimat-kalimat reguler dan dalam bahasa yang benar, yang akan membantu anak mengerti cara memadukan kata menjadi kalimat yang bermakna.


KIAT KEBERHASILAN
·         Tidak perlu membanding-bandingkan anak Anda dengan anak lainnya, karena perkembangan setiap anak bisa berbeda. Namun, tetap usahakan stimulasi yang maksimal untuk perkembangannya.


Daftar Pustaka
Rita L. dkk. Pengatar Psikologi. Batam Centre: Interaksara.
Sujiono, Yuliani Nurani. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. Jakata: PT. Indeks, 2012.



[1] Yuliani Nurani Sujiono. Konsep Dasar Pendidikan Anak Usia Dini. (Jakata: PT. Indeks , 2012). hh. 155-156)
[2] Rita L. dkk. Pengatar Psikologi. (Batam Centre: Interaksara). hh. 144-148.
[3] Rita L. dkk. Pengatar Psikologi. (Batam Centre: Interaksara). hh. 578-582.

No comments:

Post a Comment

Jangan Lupa "Post a Comment" dengan memberi saran, kritikan yang dapat membangun perbaikan content isi Blog Rumah Aiyra . Terima Kasih

Subscribe

Ikuti Perkembangan Rumah Aiyra